AKU TIDAK SEMPURNA
Oleh P.O
Langit hari itu tampak mendung, seolah alam ingin ikut larut dalam perasaan seseorang. Awan abu-abu menggantung rendah, dan angin yang lewat terasa lembap, membawa aroma tanah yang sebentar lagi akan tersiram hujan.
Hari itu adalah hari Senin, sekaligus hari pembagian rapor di sekolah. Sebuah hari yang dinanti-nanti oleh sebagian besar siswa berprestasi, mereka yang yakin akan menerima pujian dan tepuk tangan. Tapi tidak bagi Rainanda Putri Dzakiya biasa dipanggil Raina. Baginya, hari pembagian rapor adalah hari yang menegangkan, menyimpan ketakutan yang hanya ia dan hatinya yang tahu.
Sesampainya di sekolah, Raina dan ibunya, Velinsia, berjalan menuju kelas.
“Na, kelas kamu yang mana?” tanya Velinsia sambil memandangi lorong sekolah yang ramai.
“Yang di ujung sana, Ma,” jawab Raina sambil menunjuk ke arah kelasnya.
Di depan kelas, mereka disambut oleh wali kelas Raina, Bu Sulis, yang tersenyum hangat.
“Selamat pagi, silakan masuk, Bu.”
Velinsia membalas dengan anggukan kecil, dan Raina langsung menyalami gurunya. Tidak lama kemudian, nama Raina dipanggil untuk menerima rapor.
“Kepada orang tua dari ananda Rainanda Putri Dzakiya,” ucap Bu Sulis.
Velinsia berdiri, melangkah ke meja guru, diikuti Raina.
“Bagaimana hasil belajar anak saya, Bu?” tanyanya.
“Raina sangat baik. Nilainya stabil dan membanggakan. Selamat ya, Raina, kamu mendapat peringkat dua.”
Wajah Raina mengembang, tetapi senyum itu tidak bertahan lama.
Pukul menunjukkan dua belas malam. Di saat anak-anak lain tertidur pulas dalam pelukan malam, Raina masih duduk di meja belajar, dikelilingi buku-buku tebal yang terbuka.
“Raina ngantuk, Ma,” bisiknya pelan.
Namun seketika, Velinsia menyiramkan segelas air ke wajah anaknya. “Jangan tidur! Kamu harus belajar! Besok ada ulangan matematika!”
Raina tersentak, matanya terbuka paksa. Air mengalir membasahi wajah dan buku di hadapannya.
“Kenapa, Ma? Kenapa Mama selalu menuntut nilai sempurna? Raina bukan robot. Raina cuma anak biasa,” ucapnya lirih, suaranya pecah. Air matanya jatuh bercampur air di pipinya, membasahi buku tulis yang terbuka.
“Mama cuma ingin kamu dapat peringkat satu. Jangan mau kalah,” ujar Velinsia tanpa ekspresi.
“Tapi aku sudah peringkat dua, Ma… Itu tidak cukup?”
“Tidak. Masih ada yang mengalahkan kamu.”
Raina tidak menjawab. Diam menjadi bentuk perlawanan yang paling tenang. Tapi tubuhnya sudah terlalu lelah. Tiba-tiba, setetes darah menetes dari hidungnya. Ia langsung mengambil tisu, namun darah itu mengalir deras. Kepala terasa berat, dan tanpa sempat berkata apa-apa lagi, tubuhnya roboh ke lantai.
“Raina! Bangun, Nak! Na…!” teriak Velinsia panik, mengguncang tubuh anaknya yang tergeletak lemas.
“Ya Allah… selamatkan anakku,” bisik Velinsia di ruang tunggu rumah sakit, dengan mata sembab menatap pintu ruang perawatan.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar.
“Orang tua dari pasien Rainanda?”
“Ya, saya…” Velinsia segera berdiri dan menghampiri.
“Raina sudah sadar. Ia mengalami mimisan dan pingsan karena kelelahan. Saat ini kondisinya stabil, tapi ia perlu istirahat dan perhatian.”
Velinsia mengangguk lemah.
“Ibuk boleh menjenguk sekarang,” ucap seorang suster yang membimbingnya masuk.
Di dalam, Raina tampak terbaring lemah, selang infus di tangan, wajahnya pucat.
“Na… kamu sudah sadar?” tanya Velinsia pelan.
Raina hanya berdehem ringan. Velinsia mendekap anaknya, air matanya mengalir tanpa bisa dibendung.
“Maafkan Mama, Na… Mama salah… terlalu keras, terlalu menuntutmu sempurna…”
Raina pun menangis dalam pelukan ibunya.
“Raina juga minta maaf, Ma. Raina belum bisa bahagiakan Mama. Belum jadi seperti yang Mama inginkan…”
“Tidak, Nak… kamu sudah sangat hebat. Kamu peringkat dua, kamu kuat… lebih dari cukup.”
Mereka saling menggenggam tangan, seolah ingin menyalurkan semua kata yang tak pernah terucap selama ini.
“Ma, Raina mau tanya sesuatu,” ujar Raina setelah tenang.
“Apa itu, Nak?”
“Kenapa Mama selalu menuntut nilai sempurna dari Raina?”
Velinsia terdiam sejenak, lalu menjawab lirih, “Mama cuma ingin kamu tidak merasakan masa kecil seperti Mama…”
(Kilasan masa lalu)
“Bunda! Lihat! Nilai matematika Velinsia 98!” seru Velinsia kecil dengan wajah bangga.
Namun Bundanya, Laras, hanya menatap dingin. “Hanya segitu?”
Seketika, Laras mengambil ikat pinggang dan mencambuk anaknya. Velinsia hanya bisa berjongkok, memeluk lututnya, berharap cambukan itu segera selesai.
“Percuma Bunda bayar guru les mahal-mahal!” bentak Laras sambil menunjuk-nunjuk wajah anaknya.
Tiba-tiba, napas Laras tersengal. Dadanya naik-turun cepat. Wajahnya pucat. Ia terjatuh menabrak rak buku, tubuhnya terhimpit dan tak sadarkan diri.
(Kembali ke masa kini)
“Sejak kejadian itu… Mama trauma melihat nilai tidak sempurna. Mama takut kamu nanti gagal seperti Mama.”
Raina menatap ibunya lembut. “Mungkin sekarang waktunya Mama memaafkan masa lalu… dan memaafkan Nenek.”
Beberapa hari kemudian, Velinsia berdiri di pemakaman umum. Di tangannya ada buket bunga dan setumpuk kertas ujian milik Raina. Ia mencari sebuah nisan bertuliskan Chantika Larasia.
Saat menemukannya, ia jongkok, menabur bunga, dan meletakkan kertas-kertas itu di atas makam.
“Selamat Hari Ibu, Bun… Ini nilai anakku. Hampir sempurna. Tapi mulai sekarang, aku tak akan memaksa dia menjadi sempurna. Aku ingin dia bahagia, tidak seperti aku.”
Angin pagi berembus pelan. Seolah alam mengerti bahwa hari itu, satu luka lama telah sembuh, dan satu hati telah pulih.
TAMAT