Skip to content

Aku Tidak Sempurna

()

By: Putri Olivia

Hari ini cuaca begitu mendung, pertanda hujan akan segera hurun. Sepertinya semesta membiarkan hujan menyapa penduduk bumi terlebih dahulu.

Hari  ini  juga  bertepatan  dengan  hari  Senin,  lebih  tepatnya  hari  penerimaan  lapor, sehingga orang tua diperbolehkan mengambil lapor siswa ke sekolah. Bagi sebagian siswa hari penerimaan lapor adalah hari yang Sangat ditunggu-tunggu terutama bagi siswa yang selalu mendapat nilai bagus dan tentunya adalah orang- orang juara. Tapi tidak bagi seorang Rainanda Putri Dzakiya, atau yang kerap dipanggil dengan sapaan Raina. Baginya, hari penerimaan lapor adalah hari yang sangat menakutkan.

Sesampainya di sekolah, orang tua diperbolehkan untuk memasuki kelas anak-anaknya. “Na kelas kamu yang mana?” tanya Velinsia – Mama Raina

“Yang itu Ma!” tunjuk Raina ke kelas yang terletak di paling ujung lorong.

Setelah berjalan menelusuri lorong tersebut, akhirnya mereka sampai di depan kelas yang di  tuju.  Mereka disambut oleh  Buk  Sulis  wali  kelas  Raina dengan senyum yang  merekah sempurna di wajahnya.

“Selamat pagi! silahkan masuk Buk!”

Velinsia hanya membalas dengan senyuman, sedangkan Rania langsung menyalami wali kelasnya tersebut.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat kini saatnya orang tua Rania yang akan dipanggil untuk pengambilan lapor.

“Kepada orang tua dari ananda Rainanda Putri Dzakiya!” panggil Buk Sulis.

Velinsia langsung beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Buk Sulis diiringi dengan Raina di belakang nya.

“Bagaimana dengan nilai anak saya, Buk?”

“Raina sangat baik dalam belajarnya nilainya pun juga bagus-bagus dan selamat kepada

Raina karena telah berhasil memperoleh peringkat ke dua!” ucap Buk Sulis.

***

“Raina ngantuk Ma’’ lirih Raina berusaha membuka pejaman matanya agar tidak tertidur. Saat ini sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Di saat insan lain sedang bermimpi indah Raina masih sibuk berkutat dengan berbagai buku pelajaran yang terbentang di hadapannya.

Velinsia  langsung  mengambil  segelas  air  yang  ia  letakkan  di  sebelah  meja  Raina kemudian ia siramkan ke wajah Raina. “Jangan tidur! kamu harus tetap belajar!” paksa Velinsia.

Raina sontak terkejut dengan siraman air tersebut. Wajah nya seketika langsung basah yang membuat matanya tidak bisa terpėjam lagi. “Kenapa Ma? Kenapa Mama selalu nuntut nilai sempurna dari aku, Ma? jangan tuntut Raina untuk menjadi orang yang sempurna Raina hanya orang biasa Ma”, seketika cairan bening mulai turun dari sepasang mata yang tampak sangat lelah itu. Cairan bening tersebut turun tanpa permisi dan mulai membasahi beberapa buku yang ada di hadapannya.

“Mama hanya mengharapkan kamu untuk mendapatkan peringkat pertama, Raina”. “Tapi kan Raina sudah mendapat peringkat ke dua, Ma”. tukas Raina.

“Berarti ada orang yang bisa mengalahkan mu, Mama berharap anak Mama tidak terkalahkan!”tegas Velinsia.

Raina lebih memilih untuk diam dari pada harus adu mulut dengan Velinsia. la terlalu malas untuk berdebat dengan orang yang sudah melahirkannya tersebut.

Tiba-tiba setetes  cairan kental berwarna merah luruh mengenai tangan milik  Raina. Sontak ia langsung mengambil tisu dan mengelap hidungnya. Cairan kental berwarna merah tersebut semakin luruh membanjiri tisu yang ia gunakan untuk mengelap hidungnya. Sesaat kemudian, kepala Raina terasa sangat berat hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. la terjatuh dan tergeletak begitu saja di lantai.

“Raina!!! Na… bangun…!” teriak Velinsia begitu histeris ketika menyadari putri semata wayangnya tergeletak tak sadarkan diri. la menggoncang-goncangkan tubuh mungil putrinya tersebut, berharap Raina akan bangun dan sadarkan diri.

***

“Ya Allah, sadarkanlah anak hamba, Ya Allah!” pinta Velensia pada Tuhan yang telah menciptakannya. Saat ini ia berada di ruang tunggu. la menanti seorang dokter keluar dari ruangan tempat Raina dirawat.

Sesaat kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. “Kepada orang tua dari pasien bernama Raina!” panggil dokter tersebut.

Mendengar panggilan tersebut, Velinsia langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut. Ia menanyai keadaan anaknya dengan raut wajah cemas.

“Saat ini, Raina sudah sadarkan diri. Setelah kami periksa, sepertinya penyebab Raina mengalami mimisan dan pingsan disebabkan kelelahan” keterangan dokter tersebut.

“Anak Ibuk sudah sadarkan diri, ibuk boleh melihat keadaannya!” ucap salah satu suster seraya mempersilahkan Velinsia untuk masuk.

Ketika berada di ambang pintu Velinsia dapat melihat anaknya yang terkulai lemas di atas brankar rumah sakit dengan bantuan banyak alat medis di sampingnya.

“Na… Raina udah sadar?”

“Hmmm…” Raina hanya berdehem singkat

Melihat kondisi anaknya, Velinsia langsung memeluk Raina dengan sangat erat. “Maafin Mama, na…Mama salah karena udah nuntut kamu untuk mendapat nilai sempurna…” sesal Velinsia

Kini mereka sama-sama menangis dalam kehangatan pelukan Ibu dan Anak tersebut. “Raina juga minta maaf, Ma…karena belum bisa  bahagiain Mama, Raina juga  belum bisa menjadi sempurna seperti yang Mama inginkan, maaf Ma…”

“Ngak Na, bagi Mama kamu adalah anak yang hebat, kamu udah bisa ngeraih peringkat ke dua” Velinsia duduk di samping kasur Raina seraya mengenggam erat tangan sang anak.

“Mama, Raina Mau nanya.” Pinta Raina. “Nanya? apa?”

“Kenapa Mama selalu nuntut nilai sempurna dari Raina?”

“Mama hanya ingin kamu tidak merasakan kehidupan seperti Mama…”

* Flashback on *

“Bunda! Velinsia dapat nilai mtk 98 Bun!!!” sorak Velensia penuh kegirangan sembari memamerkan kertas hasil ujian mtk-nya.

“Hanya segitu?” tanya Laras-Bunda Velinsia dengan nada meremehkan. Velinsia hanya membalas dengan anggukan.

Lalu Laras mengambil ikat pinggang yang terletak di atas meja dan mencambuk Velinsia. Velinsia sontak berjongkok dan memeluk tubuhnya sendiri berharap cambukan tersebut tidak meninggalkan lebam. Tapi nyatanya dunia tidak berpihak pada Velinsia, kini tubuhnya terasa begitu sakit dan meninggalkan banyak lebam.

“Sia-sia Bunda memanggil guru untuk les privat kamu, Bunda udah meluangkan waktu untuk ngajarin kamu!” bentak Laras sembari menunjuk-nunjuk Velinsia dengan jari lentiknya. Mata yang melotot dan wajah yang merah padam menambah kesan kemarahan Laras.

Tiba-tiba dada Laras terasa sesak napasnya tak beraturan dadanya naik turun hingga napasnya Tersenggal-senggal. Hidupnya berakhir dengan wajahnya yang pucat pasi dan Laras pun terjatuh hingga tubuhnya menabrak keras sebuah rak yang berisikan buku-buku pelajaran. Tubuhnya terhimpit dan ia pun tak sadarkan diri.

*Flashback off *

“Jadi gitu ceritanya Na….” “…”

“Semenjak meninggalnya nenek kamu dan semenjak kejadian itu, Mama trauma melihat nilai yang tidak sempurna. Makanya Mama pengen kamu selalu mendapat nilai sempurna”. tutur Mama penuh penyesalan.

“Sebaiknya, Mama minta maaf sama Nenek, agar Nenek bisa pergi dengan tenang”. nasehat Raina.

***

Kini Velinsia sudah sampai di tempat pemakaman umum. Matanya mulai lincah untuk mencari makam dengan batu nisan bertulisan ‘Chantika Larasia’. Sebelumnya, ia sempat mampir terlebih dahulu ke toko bunga.

Setelah menemukan makam yang dituju ia langsung menaburkan bunga kamboja yang ia beli tadi. Setelah itu, ia langsung berjongkok dan mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tasnya. “Selamat hari ibu! aku bawa kertas-kertas hasil ujian anakku yang nilainya hampir sempurna!” ucap Velinsia seraya meletakkan hasil ujian yang hampir sempurna tersebut di atas makam Bundanya.

Penilaianmu

Beri kami Bintang

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

As you found this post useful...

Follow us on social media!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?